Mahasiswi Prodi HI USNI Ikuti Kompetisi MUN di LSPR

Pada tanggal 21-22 Juni 2019 lalu, Tasya Syafitri, mahasiswi semester IV Program Studi Ilmu Hubungan Internasional USNI, mengikuti London School Model United Nations (LSMUN) 2019 di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta. LSMUN merupakan kompetisi Model United Nations (MUN) berskala nasional yang diselenggarakan oleh Youth Diplomacy Community LSPR.

MUN merupakan sebuah kompetisi simulasi sidang PBB yang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki ketertarikan pada berbagai isu internasional. Dalam MUN, setiap peserta akan mendapatkan peran sebagai delegasi negara tertentu. Sebagai delegasi yang mewakili negara tertentu, setiap peserta harus melibatkan diri melalui serangkaian kegiatan yang menyerupai proses pengambilan keputusan di berbagai badan PBB. Dengan demikian, mereka harus mempelajari dan meneliti negara tersebut serta kebijakannya dalam isu-isu tertentu.

Dalam MUN, para peserta ini akan dihadapkan dengan masalah-masalah tertentu yang harus mereka carikan solusinya. Dalam menjalankan peran mereka, para peserta perlu memiliki beberapa keterampilan, seperti kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi, menyampaikan pidato, merumuskan strategi, dan sebagainya. Oleh sebab itu, banyak soft skills yang dapat terasah dengan mengikuti MUN, di antaranya berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, public speaking, berdebat, dan problem solving.

Sebelum mengikuti LSMUN 2019, Tasya sudah beberapa kali mengikuti kegiatan serupa, di antaranya Model ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (Model AIPA) 2018, Veteran Model United Nations (VETAMUN) 2018 di UPN “Veteran” Jakarta, Soedirman Diplomatic Course di Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII) XXX pada tahun 2018 di Universitas Jenderal Soedirman, dan International Human Rights Model United Nations (IHRMUN) 2019 di Sampoerna University. LSMUN 2019 menjadi kompetisi MUN kelima yang diikutinya.

Di LSMUN 2019, Tasya mengambil council UNICEF. Ia mengambil UNICEF karena tertarik dengan isu perlindungan dan kesejahteraan anak. Adapun judul yang diangkatnya adalah “Enhancing Quality of Education for Child Refugees”. Isu ini membahas tentang peningkatan kualitas pendidikan bagi para pengungsi, khususnya anak-anak dari daerah konflik yang pindah ke negara lain untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak.

Di LSMUN 2019 ini, Tasya berperan delegasi Finlandia. Finlandia merupakan negara dengan kualitas pendidikan terbaik kelima di dunia. Di negara itu, menurut Tasya, tidak ada perbedaan akses terhadap pendidikan baik untuk siswa lokal maupun anak-anak pengungsi. Pendapat itu menjadi argumen kuat bagi Tasya untuk membahas tentang kualitas pendidikan bagi para anak pengungsi.

Dari kegiatan ini, banyak hal dan pelajaran yang Tasya peroleh. Pertama, menambah jaringannya dengan mengenal peserta-peserta lain yang sudah lebih memiliki pengalaman di kompetisi MUN ataupun di non-governmental organization (NGO) sesuai isu yang ia minati. Kedua, meningkatkan kemampuan public speaking-nya. Ketiga, mengasah kemampuannya berbicara dalam Bahasa Inggris. Keempat, melatih kemampuannya dalam berpikir kritis dan meneliti suatu masalah. Kelima, mengasah kemampuan menulisnya, sebab dalam MUN, semua peserta diwajibkan membuat position paper. Keenam, mengetahui cara PBB mengatasi suatu masalah secara damai. Terakhir, lebih aware dan peduli tentang isu-isu internasional yang sedang booming.

Peran Mentor di Balik Kesuksesan Tasya

Di balik kesuksesan Tasya mengikuti berbagai kompetisi MUN, ada seseorang yang selalu mendukungnya, bahkan bersedia menjadi mentor setiap Tasya ingin mengikuti MUN. Ia adalah Nadim Sungkar, mahasiswa Prodi HI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sudah mengenal Tasya sejak sama-sama mengikuti Model AIPA 2018.

Nadim berpendapat, “Tasya Syafitri merupakan salah satu MUNer yang saya kenal dan paling antusias dalam mengikuti MUN. Rasa penasarannya terhadap MUN serta keinginannya untuk terus belajar dan berkompetisi di MUN membuktikan bahwa Tasya merupakan sosok yang sangat inspiratif. Saya harap kisah perjalanan Tasya saat mengikuti MUN dapat menginspirasi para mahasiswa-mahasiswi HI USNI untuk mengikuti MUN. Dan, saya semakin berharap agar banyak MUNer seperti Tasya Syafitri ini di lingkungan USNI.”

Kepada mahasiswa-mahasiswi USNI, khususnya dari Prodi HI, Tasya berpesan, “MUN is the best platform for you to develop yourself. MUN is the best way for you to get out from comfort zone. MUN is the best place for you to learn about the real diplomacy. So, kalian mahasiswa USNI, yang merupakan the agents of change, harus berani ikut MUN. Tidak boleh ada rasa takut dalam berbicara di depan banyak orang. Harus berani! Karena itu merupakan suatu tantangan bagi kamu agar bisa melawan rasa takutmu.”